Subfamili Thomisinae
Thomisinae adalah subfamili terbesar dan paling terkenal dalam famili Thomisidae (Ordo Araneae), yang terdiri dari laba-laba kepiting pada umumnya. Subfamili ini tersebar di seluruh dunia dan sangat beragam di wilayah tropis dan subtropis, meskipun banyak spesies juga umum ditemukan di ekosistem beriklim sedang.
Anggota Thomisinae dicirikan oleh bentuk tubuh yang sangat mirip kepiting. Prosoma seringkali lebar dan pipih, dan dua pasang kaki depan sangat besar, kokoh, dan laterigrade (berorientasi menyamping), memberikan mekanisme cengkeraman yang kuat untuk menangkap mangsa. Kaki posterior biasanya lebih pendek dan kurang kokoh. Dimorfisme seksual sangat jelas, dengan betina seringkali jauh lebih besar dan berbadan lebih berat daripada jantan.
Laba-laba Thomisinae terutama merupakan predator penyergap dan tidak membangun jaring penangkap mangsa. Sebaliknya, mereka mengandalkan kamuflase, keheningan, dan serangan mendadak untuk menangkap mangsa. Banyak spesies menghuni bunga, daun, atau kulit kayu, di mana pewarnaan mereka memungkinkan mereka untuk berbaur dengan sempurna ke lingkungan sekitarnya. Beberapa spesies dapat perlahan-lahan mengubah warna seiring waktu untuk menyesuaikan dengan substrat, terutama yang hidup di bunga.
Mangsa utamanya terdiri dari serangga dan arthropoda kecil lainnya, termasuk penyerbuk seperti lebah, lalat, dan kupu-kupu. Meskipun tidak memiliki jaring, Thomisinae adalah predator yang efisien dan dapat mengalahkan mangsa yang lebih besar dari dirinya sendiri menggunakan kaki depan yang kuat dan racunnya. Sutra terutama digunakan untuk tali penarik, kantung telur, dan tempat berlindung daripada untuk menangkap mangsa.
Reproduksi mengikuti pola entelegyne yang khas dari laba-laba araneomorf tingkat lanjut, dengan struktur genital yang kompleks pada kedua jenis kelamin. Perkembangannya langsung, dengan anak laba-laba muncul sebagai dewasa mini dan tumbuh melalui pergantian kulit berturut-turut.
Secara ekologis, Thomisinae memainkan peran penting dalam ekosistem darat, khususnya di habitat yang kaya vegetasi seperti padang rumput, kebun, hutan, dan area pertanian. Sebagai predator penyergap yang efektif, mereka membantu mengatur populasi serangga dan memengaruhi interaksi antara tumbuhan dan serangga, termasuk penyerbuk.
