Ular Kobra Jawa (Naja sputatrix)
Naja sputatrix adalah ular elapid berukuran sedang hingga besar yang tersebar di beberapa pulau di Indonesia. Panjang tubuh individu dewasa umumnya mencapai 1,2–1,5 m, meskipun beberapa individu dapat melebihi 2 m. Warna tubuh bagian dorsal bervariasi dari cokelat hingga abu-abu atau hitam, terkadang dengan pita samar, serta bagian ventral yang lebih terang.
Seperti kobra penyembur Asia lainnya, spesies ini memiliki taring depan termodifikasi yang mampu menyemprotkan racun ke arah mata ancaman. Perilaku defensif meliputi pengembangan tudung (hood), pengangkatan bagian depan tubuh, desisan, dan penyemburan racun.
Sebaran
Spesies ini berasal dari Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Komodo, Alor, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya dalam kawasan Nusa Tenggara.
Habitat
Naja sputatrix menghuni habitat dataran rendah hingga menengah, umumnya pada ketinggian 0–600 m dpl, dan hingga sekitar 700 m dpl di beberapa wilayah Bali. Spesies ini ditemukan di hutan hujan tropis, hutan musim, daerah terbuka kering, savana, serta lanskap pertanian. Kobra Jawa dikenal adaptif dan toleran terhadap lingkungan yang telah dimodifikasi oleh aktivitas manusia.
Aktivitas dan Perilaku
Spesies ini bersifat diurnal dan nokturnal, dengan aktivitas yang berlangsung sepanjang siang dan malam. Kobra Jawa terutama terestrial, namun mampu memanjat dalam batas tertentu. Perilaku defensif sangat jelas; saat terancam, individu akan mengangkat bagian depan tubuh, membuka tudung, dan menyemprotkan racun ke arah mata pengganggu. Envenomasi okular dapat menyebabkan iritasi parah dan berpotensi menimbulkan kebutaan sementara.
Pola Makan dan Ekologi Pakan
Naja sputatrix merupakan karnivora generalis. Mangsa yang tercatat meliputi:
- Hewan pengerat dan mamalia kecil
- Kadal
- Katak
- Ular lain
Aktivitas mencari makan dilakukan baik pada siang maupun malam hari.
Reproduksi
Spesies ini bersifat ovipar (bertelur). Aktivitas reproduksi umumnya mencapai puncak pada bulan November. Jumlah telur dalam satu sarang berkisar antara 13–19 butir, dengan masa inkubasi sekitar 88 hari. Anak ular yang baru menetas memiliki panjang tubuh 24–28 cm dan bersifat mandiri sejak lahir.
Bisa
Bisa Naja sputatrix bersifat neurotoksik kuat, dengan efek sistemik yang dapat mencakup kelumpuhan dan gangguan pernapasan. Selain itu, kemampuan menyemburkan racun ke mata dapat menyebabkan nyeri hebat dan, tanpa penanganan medis, gangguan penglihatan sementara.
Interaksi dengan Manusia
Meskipun umumnya bersifat defensif dan tidak agresif secara aktif, N. sputatrix memiliki risiko medis yang tinggi bagi manusia akibat racunnya yang kuat dan kemampuan menyembur. Interaksi dengan manusia sering terjadi di lahan pertanian dan daerah peri-urban tempat spesies ini masih bertahan.
Status Konservasi
Menurut Daftar Merah IUCN, Naja sputatrix dikategorikan sebagai Least Concern (Risiko Rendah) karena sebarannya yang luas dan kemampuan adaptasinya yang baik.
Ancaman utama meliputi eksploitasi untuk perdagangan kulit, yang dapat menyebabkan penurunan populasi secara lokal, meskipun populasi global saat ini masih dianggap stabil.
