{"id":10611,"date":"2021-09-03T07:45:52","date_gmt":"2021-09-03T07:45:52","guid":{"rendered":"https:\/\/baliwildlife.com\/encyclopedia\/%encyclopedia-category%\/the-cycad-blue\/"},"modified":"2021-09-03T07:45:52","modified_gmt":"2021-09-03T07:45:52","slug":"the-cycad-blue","status":"publish","type":"encyclopedia","link":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/","title":{"rendered":"The Cycad Blue"},"content":{"rendered":"<p><em>Chilades pandava <\/em>jantan memiliki sayap bagian atas berwarna biru keunguan terang dengan batas tepi sempit berwarna hitam dan bintik hitam yang menonjol di sayap belakang. Individu betina memiliki tepi hitam yang lebih luas, warna birunya lebih pucat dan memiliki bintik hitam di ujung sayap belakang. Bagian bawah sayapnya berwarna abu-abu dengan bintik hitam kecoklatan yang dibatasi garis abu muda. Bintik hitam dibagian tornal (ujung belakang sayap) bermahkota oranye, terdapat ekor berserabut dengan ujung berwarna putih di sayap belakang.<\/p>\n<p>Larva : larva <em>Chilades pandava<\/em> memiliki kepala kecil berwarna hitam mengkilap, tekstur kukitnya kasar, berwarna ungu kemerahan, tetapi di instar terakhir berwarna hijau terang dengan garis gelap sepanjang punggung dan sisi tubuhnya. Larva ini memiliki simbiosis mutualisme dengan semut, semut akan memerah kelenjar ulat <em>Chilades pandava<\/em> untuk mengambil hasil sekresi gula, sedangkan semut melindungi ulat dari pemangsa. Pada fase pupa, pupa terbentuk di tanah lalu dikubur oleh semut.<\/p>\n<p>Pupa : pupa <em>Chilades pandava<\/em> memiliki bentuk lycaenid yang khas, warnanya hijau kekuningan atau kekuningan hingga coklat merah tua dengan banyak bintik hitam, tergantung warna ulat. Panjang pupa sekitar 9,5 &#8211; 10,5 mm.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Chilades pandava jantan memiliki sayap bagian atas berwarna biru keunguan terang dengan batas tepi sempit berwarna hitam dan bintik hitam yang menonjol di sayap belakang. Individu betina memiliki tepi hitam yang lebih luas, warna birunya lebih pucat dan memiliki bintik hitam di ujung sayap belakang. Bagian bawah sayapnya berwarna abu-abu dengan bintik hitam kecoklatan yang dibatasi garis abu muda. Bintik hitam dibagian tornal (ujung belakang sayap) bermahkota oranye, terdapat ekor berserabut dengan ujung berwarna putih di sayap belakang.<br \/>\nLarva : larva Chilades pandava memiliki kepala kecil berwarna hitam mengkilap, tekstur kukitnya kasar, berwarna ungu kemerahan, tetapi di instar terakhir berwarna hijau terang dengan garis gelap sepanjang punggung dan sisi tubuhnya. Larva ini memiliki simbiosis mutualisme dengan semut, semut akan memerah kelenjar ulat Chilades pandava untuk mengambil hasil sekresi gula, sedangkan semut melindungi ulat dari pemangsa. Pada fase pupa, pupa terbentuk di tanah lalu dikubur oleh semut.<br \/>\nPupa : pupa Chilades pandava memiliki bentuk lycaenid yang khas, warnanya hijau kekuningan atau kekuningan hingga coklat merah tua dengan banyak bintik hitam, tergantung warna ulat. Panjang pupa sekitar 9,5 &#8211; 10,5 mm. <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":10607,"parent":0,"menu_order":851,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"encyclopedia-category":[192,205,200],"class_list":["post-10611","encyclopedia","type-encyclopedia","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","encyclopedia-category-hewan","encyclopedia-category-kupu-kupu","encyclopedia-category-serangga","description-off"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>The Cycad Blue (Cethosia hypsea) - Bali Wildlife<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Chilades pandava jantan memiliki sayap bagian atas berwarna biru keunguan terang dengan batas tepi sempit berwarna hitam dan bintik hitam yang menonjol di sayap belakang. Individu betina memiliki tepi hitam yang lebih luas, warna birunya lebih pucat dan memiliki bintik hitam di ujung sayap belakang. Bagian bawah sayapnya berwarna abu-abu dengan bintik hitam kecoklatan yang dibatasi garis abu muda. Bintik hitam dibagian tornal (ujung belakang sayap) bermahkota oranye, terdapat ekor berserabut dengan ujung berwarna putih di sayap belakang. Larva : larva Chilades pandava memiliki kepala kecil berwarna hitam mengkilap, tekstur kukitnya kasar, berwarna ungu kemerahan, tetapi di instar terakhir berwarna hijau terang dengan garis gelap sepanjang punggung dan sisi tubuhnya. Larva ini memiliki simbiosis mutualisme dengan semut, semut akan memerah kelenjar ulat Chilades pandava untuk mengambil hasil sekresi gula, sedangkan semut melindungi ulat dari pemangsa. Pada fase pupa, pupa terbentuk di tanah lalu dikubur oleh semut. Pupa : pupa Chilades pandava memiliki bentuk lycaenid yang khas, warnanya hijau kekuningan atau kekuningan hingga coklat merah tua dengan banyak bintik hitam, tergantung warna ulat. Panjang pupa sekitar 9,5 - 10,5 mm.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"The Cycad Blue (Cethosia hypsea) - Bali Wildlife\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Chilades pandava jantan memiliki sayap bagian atas berwarna biru keunguan terang dengan batas tepi sempit berwarna hitam dan bintik hitam yang menonjol di sayap belakang. Individu betina memiliki tepi hitam yang lebih luas, warna birunya lebih pucat dan memiliki bintik hitam di ujung sayap belakang. Bagian bawah sayapnya berwarna abu-abu dengan bintik hitam kecoklatan yang dibatasi garis abu muda. Bintik hitam dibagian tornal (ujung belakang sayap) bermahkota oranye, terdapat ekor berserabut dengan ujung berwarna putih di sayap belakang. Larva : larva Chilades pandava memiliki kepala kecil berwarna hitam mengkilap, tekstur kukitnya kasar, berwarna ungu kemerahan, tetapi di instar terakhir berwarna hijau terang dengan garis gelap sepanjang punggung dan sisi tubuhnya. Larva ini memiliki simbiosis mutualisme dengan semut, semut akan memerah kelenjar ulat Chilades pandava untuk mengambil hasil sekresi gula, sedangkan semut melindungi ulat dari pemangsa. Pada fase pupa, pupa terbentuk di tanah lalu dikubur oleh semut. Pupa : pupa Chilades pandava memiliki bentuk lycaenid yang khas, warnanya hijau kekuningan atau kekuningan hingga coklat merah tua dengan banyak bintik hitam, tergantung warna ulat. Panjang pupa sekitar 9,5 - 10,5 mm.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Bali Wildlife\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/IMG_0785.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1714\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"1 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/\",\"url\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/\",\"name\":\"The Cycad Blue (Cethosia hypsea) - Bali Wildlife\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/IMG_0785.jpg\",\"datePublished\":\"2021-09-03T07:45:52+00:00\",\"description\":\"Chilades pandava jantan memiliki sayap bagian atas berwarna biru keunguan terang dengan batas tepi sempit berwarna hitam dan bintik hitam yang menonjol di sayap belakang. Individu betina memiliki tepi hitam yang lebih luas, warna birunya lebih pucat dan memiliki bintik hitam di ujung sayap belakang. Bagian bawah sayapnya berwarna abu-abu dengan bintik hitam kecoklatan yang dibatasi garis abu muda. Bintik hitam dibagian tornal (ujung belakang sayap) bermahkota oranye, terdapat ekor berserabut dengan ujung berwarna putih di sayap belakang. Larva : larva Chilades pandava memiliki kepala kecil berwarna hitam mengkilap, tekstur kukitnya kasar, berwarna ungu kemerahan, tetapi di instar terakhir berwarna hijau terang dengan garis gelap sepanjang punggung dan sisi tubuhnya. Larva ini memiliki simbiosis mutualisme dengan semut, semut akan memerah kelenjar ulat Chilades pandava untuk mengambil hasil sekresi gula, sedangkan semut melindungi ulat dari pemangsa. Pada fase pupa, pupa terbentuk di tanah lalu dikubur oleh semut. Pupa : pupa Chilades pandava memiliki bentuk lycaenid yang khas, warnanya hijau kekuningan atau kekuningan hingga coklat merah tua dengan banyak bintik hitam, tergantung warna ulat. Panjang pupa sekitar 9,5 - 10,5 mm.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/IMG_0785.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/IMG_0785.jpg\",\"width\":1714,\"height\":1200},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Encyclopedia\",\"item\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Hewan\",\"item\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/encyclopedia\/encyclopedia-category\/hewan\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Serangga\",\"item\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/encyclopedia\/encyclopedia-category\/hewan\/serangga\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":5,\"name\":\"Kupu-Kupu\",\"item\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/encyclopedia\/encyclopedia-category\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":6,\"name\":\"The Cycad Blue\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/\",\"name\":\"Bali Wildlife\",\"description\":\"Every Spices Matter\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Bali Wildlife\",\"url\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Bali-Wildlife-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Bali-Wildlife-logo.png\",\"width\":150,\"height\":35,\"caption\":\"Bali Wildlife\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"The Cycad Blue (Cethosia hypsea) - Bali Wildlife","description":"Chilades pandava jantan memiliki sayap bagian atas berwarna biru keunguan terang dengan batas tepi sempit berwarna hitam dan bintik hitam yang menonjol di sayap belakang. Individu betina memiliki tepi hitam yang lebih luas, warna birunya lebih pucat dan memiliki bintik hitam di ujung sayap belakang. Bagian bawah sayapnya berwarna abu-abu dengan bintik hitam kecoklatan yang dibatasi garis abu muda. Bintik hitam dibagian tornal (ujung belakang sayap) bermahkota oranye, terdapat ekor berserabut dengan ujung berwarna putih di sayap belakang. Larva : larva Chilades pandava memiliki kepala kecil berwarna hitam mengkilap, tekstur kukitnya kasar, berwarna ungu kemerahan, tetapi di instar terakhir berwarna hijau terang dengan garis gelap sepanjang punggung dan sisi tubuhnya. Larva ini memiliki simbiosis mutualisme dengan semut, semut akan memerah kelenjar ulat Chilades pandava untuk mengambil hasil sekresi gula, sedangkan semut melindungi ulat dari pemangsa. Pada fase pupa, pupa terbentuk di tanah lalu dikubur oleh semut. Pupa : pupa Chilades pandava memiliki bentuk lycaenid yang khas, warnanya hijau kekuningan atau kekuningan hingga coklat merah tua dengan banyak bintik hitam, tergantung warna ulat. Panjang pupa sekitar 9,5 - 10,5 mm.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"The Cycad Blue (Cethosia hypsea) - Bali Wildlife","og_description":"Chilades pandava jantan memiliki sayap bagian atas berwarna biru keunguan terang dengan batas tepi sempit berwarna hitam dan bintik hitam yang menonjol di sayap belakang. Individu betina memiliki tepi hitam yang lebih luas, warna birunya lebih pucat dan memiliki bintik hitam di ujung sayap belakang. Bagian bawah sayapnya berwarna abu-abu dengan bintik hitam kecoklatan yang dibatasi garis abu muda. Bintik hitam dibagian tornal (ujung belakang sayap) bermahkota oranye, terdapat ekor berserabut dengan ujung berwarna putih di sayap belakang. Larva : larva Chilades pandava memiliki kepala kecil berwarna hitam mengkilap, tekstur kukitnya kasar, berwarna ungu kemerahan, tetapi di instar terakhir berwarna hijau terang dengan garis gelap sepanjang punggung dan sisi tubuhnya. Larva ini memiliki simbiosis mutualisme dengan semut, semut akan memerah kelenjar ulat Chilades pandava untuk mengambil hasil sekresi gula, sedangkan semut melindungi ulat dari pemangsa. Pada fase pupa, pupa terbentuk di tanah lalu dikubur oleh semut. Pupa : pupa Chilades pandava memiliki bentuk lycaenid yang khas, warnanya hijau kekuningan atau kekuningan hingga coklat merah tua dengan banyak bintik hitam, tergantung warna ulat. Panjang pupa sekitar 9,5 - 10,5 mm.","og_url":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/","og_site_name":"Bali Wildlife","og_image":[{"width":1714,"height":1200,"url":"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/IMG_0785.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"1 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/","url":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/","name":"The Cycad Blue (Cethosia hypsea) - Bali Wildlife","isPartOf":{"@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/IMG_0785.jpg","datePublished":"2021-09-03T07:45:52+00:00","description":"Chilades pandava jantan memiliki sayap bagian atas berwarna biru keunguan terang dengan batas tepi sempit berwarna hitam dan bintik hitam yang menonjol di sayap belakang. Individu betina memiliki tepi hitam yang lebih luas, warna birunya lebih pucat dan memiliki bintik hitam di ujung sayap belakang. Bagian bawah sayapnya berwarna abu-abu dengan bintik hitam kecoklatan yang dibatasi garis abu muda. Bintik hitam dibagian tornal (ujung belakang sayap) bermahkota oranye, terdapat ekor berserabut dengan ujung berwarna putih di sayap belakang. Larva : larva Chilades pandava memiliki kepala kecil berwarna hitam mengkilap, tekstur kukitnya kasar, berwarna ungu kemerahan, tetapi di instar terakhir berwarna hijau terang dengan garis gelap sepanjang punggung dan sisi tubuhnya. Larva ini memiliki simbiosis mutualisme dengan semut, semut akan memerah kelenjar ulat Chilades pandava untuk mengambil hasil sekresi gula, sedangkan semut melindungi ulat dari pemangsa. Pada fase pupa, pupa terbentuk di tanah lalu dikubur oleh semut. Pupa : pupa Chilades pandava memiliki bentuk lycaenid yang khas, warnanya hijau kekuningan atau kekuningan hingga coklat merah tua dengan banyak bintik hitam, tergantung warna ulat. Panjang pupa sekitar 9,5 - 10,5 mm.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#primaryimage","url":"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/IMG_0785.jpg","contentUrl":"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/IMG_0785.jpg","width":1714,"height":1200},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/the-cycad-blue\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Encyclopedia","item":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/ensiklopedia\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Hewan","item":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/encyclopedia\/encyclopedia-category\/hewan\/"},{"@type":"ListItem","position":4,"name":"Serangga","item":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/encyclopedia\/encyclopedia-category\/hewan\/serangga\/"},{"@type":"ListItem","position":5,"name":"Kupu-Kupu","item":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/encyclopedia\/encyclopedia-category\/hewan\/serangga\/kupu-kupu\/"},{"@type":"ListItem","position":6,"name":"The Cycad Blue"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#website","url":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/","name":"Bali Wildlife","description":"Every Spices Matter","publisher":{"@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#organization","name":"Bali Wildlife","url":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Bali-Wildlife-logo.png","contentUrl":"https:\/\/baliwildlife.com\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Bali-Wildlife-logo.png","width":150,"height":35,"caption":"Bali Wildlife"},"image":{"@id":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/encyclopedia\/10611","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/encyclopedia"}],"about":[{"href":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/encyclopedia"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/encyclopedia\/10611\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10607"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10611"}],"wp:term":[{"taxonomy":"encyclopedia-category","embeddable":true,"href":"https:\/\/baliwildlife.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/encyclopedia-category?post=10611"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}